Poin Utama
|
Market memasuki 2026 di tengah pertemuan langka antara ketidakpastian kebijakan, tekanan politik, dan perubahan kepemimpinan yang akan datang di Federal Reserve AS. Masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed berakhir pada Mei 2026, sebuah transisi yang telah lama diantisipasi market. Dikombinasikan dengan kondisi ekonomi siklus akhir dan perubahan ekspektasi suku bunga, latar belakang ini menciptakan lingkungan makro yang kompleks dan sangat menarik untuk ditradingkan.
Setelah pemangkasan suku bunga pada Desember 2025, Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada pertemuan FOMC 27–28 Januari dengan kisaran target tetap di 3,50%–3,75%. Keputusan ini tidak bulat, dengan Gubernur Christopher Waller dan Stephen Miran berbeda pendapat dan mendukung pemangkasan 25 basis poin. Meskipun para pembuat kebijakan menegaskan sikap hati-hati di tengah inflasi yang masih persisten dan data tenaga kerja yang beragam, pernyataan FOMC menghapus referensi terhadap risiko penurunan pada lapangan kerja dan memberi sinyal penilaian yang lebih kuat terhadap aktivitas ekonomi.
Market kini memusatkan perhatian pada panduan kebijakan The Fed ke depan serta bagaimana transisi kepemimpinan yang akan datang dapat membentuk kebijakan moneter AS setelah 2026.
Pertemuan FOMC Januari 2026: Apa yang Diperkirakan Market
Pertemuan FOMC pada 27–28 Januari 2026 mengonfirmasi ekspektasi market dengan tidak adanya perubahan suku bunga. Para pembuat kebijakan tetap berhati-hati, menunggu data inflasi dan tenaga kerja yang lebih jelas sebelum melakukan penyesuaian lebih lanjut, meskipun inflasi yang persisten dapat menunda pemangkasan suku bunga. Menjelang pertemuan 17–18 Maret, data awal Februari, termasuk CME FedWatch (lihat grafik di bawah), menunjukkan sekitar 91,1% probabilitas suku bunga kembali ditahan di kisaran 3,50%–3,75%, mencerminkan kepercayaan market yang berkelanjutan terhadap stabilitas kebijakan.

Sumber: CME FedWatch
Yang terpenting, market kini lebih berfokus pada nada panduan kebijakan ke depan dibandingkan keputusan suku bunga itu sendiri, dengan harga aset semakin bereaksi terhadap perubahan halus dalam komunikasi The Fed dibandingkan pergerakan suku bunga utama:
- Dolar AS: Dolar tetap sangat sensitif terhadap perubahan bahasa kebijakan. Sinyal dovish atau pengakuan atas risiko penurunan cenderung melemahkan USD, sementara penekanan pada persistensi inflasi atau disiplin kebijakan biasanya mendukung penguatannya.
- Emas: Harga emas baru-baru ini turun tajam, anjlok lebih dari 10%, seiring pasar merespons pencalonan Kevin Warsh dan ekspektasi penguatan dolar di tengah harapan berkurangnya ketidakpastian kebijakan. Namun, emas tetap sensitif terhadap risiko politik yang berlanjut serta kekhawatiran terhadap independensi The Fed.
- Indeks dan obligasi: Aset berisiko merespons perubahan persepsi terhadap jalur suku bunga, dengan indeks umumnya didukung oleh sikap The Fed yang lebih lunak, sementara obligasi bereaksi terhadap ekspektasi mengenai kecepatan pemangkasan suku bunga di masa depan.
Dalam lingkungan ini, para trader tidak bersiap menghadapi kejutan perubahan suku bunga, melainkan pergeseran cara The Fed membingkai risiko terhadap pertumbuhan, inflasi, dan stabilitas keuangan.
Kepergian Powell dan Pertanyaan Suksesi Ketua The Fed
Meskipun Powell akan tetap berada di Dewan Gubernur setelah pertengahan 2026, pengunduran dirinya sebagai Ketua The Fed menandai titik balik penting bagi market. Transisi kepemimpinan di The Fed sering kali membawa perubahan dalam kecenderungan kebijakan, gaya komunikasi, dan toleransi terhadap tekanan politik.Proses suksesi beralih dari spekulasi menjadi tindakan resmi ketika Presiden Donald Trump mencalonkan mantan Gubernur The Fed, Kevin Warsh, pada 30 Januari 2026. Warsh, yang dipandang lebih hawkish dan berorientasi pada kesinambungan kebijakan serta cenderung mendukung dolar AS sambil membatasi pelonggaran agresif, telah memicu perdebatan politik di Senat, dengan sejumlah senator Demokrat berupaya menunda konfirmasi sambil menunggu penyelidikan Departemen Kehakiman terhadap Powell.
Sementara kandidat lain seperti Rick Rieder dan Kevin Hassett sebelumnya turut dipertimbangkan, fokus pasar kini sepenuhnya tertuju pada Warsh di tengah ketidakpastian politik yang berlanjut. Di luar kecenderungan kebijakan, kekhawatiran terhadap independensi The Fed dan meningkatnya retorika politik telah memperbesar sensitivitas pasar terhadap risiko politisasi, yang dapat meningkatkan volatilitas di berbagai kelas aset.

Sumber: Polymarket – Siapa yang akan Trump nominasi sebagai Ketua The Fed?
Ketidakpastian ini tercermin dalam pasar prediksi seperti Polymarket (lihat grafik di atas). Meskipun Kevin Warsh kini telah menjadi kandidat resmi, sentimen market sebelumnya berfluktuasi signifikan akibat berita politik dan perkembangan makro. Trader sebaiknya memperlakukan probabilitas ini sebagai indikator yang dinamis, bukan sebagai perkiraan yang pasti.
Risiko Politik dan Bayang-bayang Investigasi terhadap Powell
Menambah lapisan ketidakpastian lainnya adalah penyelidikan pidana yang sedang berlangsung oleh Departemen Kehakiman AS terhadap Jerome Powell, yang terkait dengan kesaksiannya mengenai renovasi kantor pusat Federal Reserve senilai USD 2,5 miliar. Meskipun belum ada dakwaan yang diajukan, penyelidikan ini masih aktif dan telah meningkatkan ketegangan politik. Beberapa senator menahan pencalonan pejabat Fed hingga penyelidikan tersebut diselesaikan, sehingga meningkatkan sensitivitas pasar terhadap risiko politisasi The Fed dan volatilitas di berbagai kelas aset.
Secara historis, ancaman terhadap kredibilitas bank sentral cenderung memicu peningkatan aversi risiko jangka pendek. Laporan mengenai investigasi ini bertepatan dengan penurunan awal futures indeks AS, meningkatnya permintaan emas sebagai aset safe haven, serta meningkatnya volatilitas di market valuta asing. Reaksi market bersifat tidak merata seiring investor menilai kembali potensi dampak kebijakan.
Investigasi ini merupakan risiko ekor (tail risk) jangka pendek yang dapat memperbesar respons market terhadap data ekonomi rutin atau komunikasi The Fed, terutama jika muncul perkembangan hukum atau politik lebih lanjut.
Implikasi Trading untuk Februari 2026
Dengan pertemuan FOMC Januari, headline suksesi Powell, dan perkembangan politik yang saling beriringan, Februari diperkirakan akan mengalami volatilitas tinggi yang sebagian besar didorong oleh berita, bukan hanya data makro.
- Dolar AS: Dolar tetap menjadi saluran utama penularan ketidakpastian terkait The Fed. Hasil suksesi yang dovish atau meningkatnya tekanan politik terhadap Federal Reserve dapat membuat USD tetap tertekan, sementara tanda-tanda kesinambungan atau penunjukan kandidat hawkish seperti Warsh dapat memberikan dukungan.
- Emas dan aset safe haven: Emas tetap berada dalam posisi yang baik untuk memanfaatkan ketidakpastian seputar independensi The Fed, risiko politik, dan penurunan imbal hasil riil, namun baru-baru ini mengalami koreksi harga yang tajam.
- Indeks: Indeks cenderung mengalami rotasi dibandingkan tren yang berkelanjutan, seiring investor menilai ulang valuasi di berbagai skenario kebijakan. Indeks dengan bobot besar saham pertumbuhan dan teknologi sangat sensitif terhadap kejutan hawkish atau kekhawatiran baru terkait kredibilitas The Fed.
Trader sebaiknya bersiap menghadapi pergerakan intraday yang lebih tajam dan perubahan sentimen yang cepat akibat headline politik dan kebijakan. Misalnya, penundaan konfirmasi, tekanan politik yang meningkat terhadap Federal Reserve, atau sinyal kebijakan yang lebih dovish dapat melemahkan dolar AS, mendukung emas, dan menekan imbal hasil obligasi AS. Sebaliknya, berita yang memperkuat prospek konfirmasi Kevin Warsh atau menandakan sikap kebijakan yang lebih hawkish dapat mendukung dolar AS, menekan emas, dan memicu pergeseran investasi dari indeks yang berfokus pada pertumbuhan.
Bagaimana Trader Dapat Menyikapi Peristiwa Ini
Dalam periode ketidakpastian makro yang tinggi, disiplin dan persiapan menjadi kunci:
- Pantau rilis data makro dan komunikasi The Fed secara cermat menjelang peristiwa penting.
- Pertradingkan reaksi market setelah peristiwa dengan konfirmasi, daripada mencoba mengantisipasi hasil sebelumnya.
- Gunakan stop loss yang lebih lebar dan ukuran posisi yang lebih kecil untuk mengelola volatilitas.
- Terapkan perencanaan skenario: The Fed yang dovish dikombinasikan dengan ketidakpastian suksesi biasanya melemahkan USD dan mendukung aset berisiko, sementara hasil yang hawkish atau berorientasi pada kesinambungan cenderung menguatkan dolar dan menekan indeks.
- Pantau berita hukum dan politik yang terkait dengan penyelidikan Powell dan proses konfirmasi Warsh, karena perkembangan mendadak dapat memicu pelemahan sementara dolar AS, lonjakan harga emas, dan penurunan tajam market saham, bahkan tanpa adanya data makroekonomi baru.
Berakhirnya masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed menandai titik balik makro yang penting bagi market pada 2026. Alih-alih memprediksi hasil, trader kini lebih berfokus pada bagaimana perubahan panduan kebijakan, kredibilitas, dan kepemimpinan membentuk kembali risiko di berbagai kelas aset. Dengan persiapan yang matang dan eksekusi yang disiplin, volatilitas di persimpangan kebijakan The Fed ini dapat diubah dari ketidakpastian menjadi peluang strategis.
Bagaimana ATFX Mendukung Trader
ATFX menyediakan berbagai alat dan sumber daya yang dibutuhkan trader untuk menavigasi market yang digerakkan oleh faktor makro yang kompleks. Fasilitas ini mencakup berita dan analisis real-time, alat charting canggih, serta akses ke berbagai instrumen CFD di forex, komoditas, dan indeks. Fitur manajemen risiko seperti stop-loss dan perlindungan saldo negatif membantu trader mengelola risiko penurunan, sementara edukasi berkelanjutan dan webinar membantu menyelaraskan strategi trading dengan peristiwa makro utama.
Dengan keputusan penting The Fed, headline nominasi, dan risiko politik yang saling beriringan, kalender ekonomi dan market alert ATFX membantu trader tetap selangkah lebih maju dalam menghadapi volatilitas mendadak pada pasangan USD, emas, dan indeks utama.
